Harga emas bergerak naik-turun karena pelaku pasar masih mengkaji arah gencatan senjata yang masih rapuh, menjelang dimulainya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir pekan ini. Emas batangan bergerak di sekitar US$4.755 per ounce setelah New York Post melaporkan Presiden AS Donald Trump menyiapkan opsi militer jika perundingan damai di Pakistan akhir pekan ini gagal. Emas berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, dengan potensi naik sekitar 1,6% untuk periode ini.
Dari sisi ekonomi, data AS terbaru pada Jumat menunjukkan harga konsumen naik paling tinggi sejak 2022, tetapi inflasi inti—yang dipantau ketat oleh Federal Reserve—relatif lebih terkendali. Imbal hasil obligasi naik tipis sementara dolar nyaris tak berubah, namun pelaku pasar tetap memasang spekulasi pemangkasan suku bunga tahun ini. Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Emas juga ditopang indikasi bahwa sebagian pembeli emas terbesar dunia masih menambah cadangan. Bank sentral Polandia mempertahankan target untuk menaikkan cadangan ke 700 ton, menurut pernyataan gubernurnya. China juga memanfaatkan harga yang lebih rendah untuk menambah sekitar 5 ton pada Maret, menjadi pembelian bulanan terbesar dalam lebih dari setahun. ANZ Bank menilai koreksi harga belakangan ini dapat mendorong akumulasi lebih lanjut, dengan pembelian bank sentral global tahun ini diperkirakan sekitar 850 ton.
Sumber : newsmaker.id