Harga emas kembali melemah meski ketegangan geopolitik meningkat, karena reli minyak dan gas memperkuat kekhawatiran inflasi dan menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
Di AS, tekanan itu datang bersamaan dengan data konsumsi terbaru yang menunjukkan belanja hanya naik tipis pada Januari di tengah pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan. Laporan tersebut menambah kekhawatiran bahwa tekanan harga sudah terbentuk bahkan sebelum serangan terhadap Iran, memperkuat narasi bahwa inflasi bisa lebih “lengket” saat energi kembali mahal.
Analis Commerzbank Research Barbara Lambrecht menilai emas “gagal memetik manfaat” dari krisis geopolitik, karena kenaikan energi justru mendorong risiko inflasi yang bisa memaksa bank sentral mengambil langkah penahan.
Lonjakan harga energi mengubah cara pasar membaca emas. Jika inflasi kembali menguat, ruang pelonggaran kebijakan moneter menyempit, sehingga suku bunga riil dan imbal hasil berpotensi tetap tinggi lebih lama—kondisi yang biasanya tidak ramah bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.
sumber : newsmaker.id