Emas global tercatat menembus rekor tertinggi

Emas global tercatat menembus rekor tertinggi mendekati US$ 3.600 per troy ounce pada perdagangan akhir pekan lalu.  Di pasar Indonesia, harga emas Antam juga menyentuh rekor tertingginya, sekitar Rp 2.060.000/gram.

Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi pasar bahwa kondisi ekonomi AS yang melemah bisa mendorong The Fed menurunkan suku bunga.

Selain itu, ketidakpastian politik di AS (kebijakan kontroversial, intervensi terhadap bank sentral) menjadi faktor yang memicu kekhawatiran pasar.

Geopolitik global—misalnya konflik di Timur Tengah, ketegangan Rusia–Eropa—juga memperkuat peran emas sebagai “safe haven”

Kenaikan emas saat ini bisa sangat sensitif terhadap kabar politik dan kebijakan AS. Jika ada kejutan positif (stabilitas politik, kebijakan pro pasar), harga bisa terkoreksi.

Biaya penyimpanan, likuiditas, spread jual-beli, dan beban pajak harus diperhitungkan terutama untuk emas fisik atau logam mulia lokal.

Emas memang bagus sebagai diversifikasi portofolio, tetapi tidak ideal untuk “dipertaruhkan penuh” karena return jangka panjangnya bisa lebih rendah dibanding instrumen produktif (saham, real estat) dalam periode pertumbuhan ekonomi.

Harga emas global masih bertahan mendekati level tertinggi sepanjang masa, diperdagangkan di kisaran $3.773 per ons saat pembukaan pasar Asia pagi ini. Angka tersebut hanya terpaut kurang dari $20 dari rekor yang tercapai pada Selasa lalu. Dalam sepekan terakhir, harga emas naik sekitar 2%, ditopang oleh derasnya aliran dana ke ETF emas serta meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya antara Rusia dan Eropa.

Fokus utama investor kini beralih ke potensi penutupan pemerintah AS. Jika Kongres gagal mencapai kesepakatan anggaran sebelum Selasa, publikasi data ketenagakerjaan penting, termasuk Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan Jumat, bisa tertunda. Keterlambatan ini dapat menambah ketidakpastian mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve, mengingat NFP merupakan indikator utama bagi bank sentral dalam menilai kondisi pasar tenaga kerja.

Di tengah kondisi yang rapuh ini, emas kembali diminati sebagai aset lindung nilai. Prospek harga logam mulia bisa semakin positif jika data ketenagakerjaan nantinya terbukti lemah, karena pasar akan semakin memperkirakan adanya penurunan suku bunga The Fed. Suku bunga yang lebih rendah cenderung meningkatkan daya tarik emas, mengingat aset ini tidak menawarkan imbal hasil.

Selain emas, perak juga mencatatkan reli signifikan. Harga perak sempat menembus $45 per ons minggu lalu, level tertingginya dalam 14 tahun. Lonjakan minat lewat ETF memperketat ketersediaan pasokan fisik, sementara biaya pinjaman perak (lease rate) melonjak di atas 5%—jauh lebih tinggi dari level normal yang biasanya mendekati nol.

Dengan ketidakpastian politik AS, risiko geopolitik global, dan spekulasi suku bunga, pasar logam mulia diperkirakan tetap akan menjadi sorotan utama investor dalam waktu dekat.

Sumber : newsmaker.id

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.