Saham-saham di Hong Kong merosot 225 poin atau 1,2% menjadi 17.832 pada awal perdagangan hari Senin, sebagian menghapus lonjakan 2,3% pada sesi sebelumnya, terseret oleh anjloknya 24% saham China Evergrande setelah pengembang yang tertekan tersebut mengatakan pihaknya tidak dapat melakukan hal tersebut. menerbitkan utang baru karena sedang dilakukan investigasi terhadap salah satu anak perusahaannya. Para pedagang juga merasa gelisah setelah sesi suram di Wall Street pada hari Jumat, karena kekhawatiran baru mengenai inflasi menyusul reli minyak baru-baru ini dan sinyal The Fed bahwa suku bunga tidak akan turun dalam waktu dekat. Semua sektor mengalami kerugian awal, tertekan oleh sektor real estat, teknologi, bahan baku, industri, dan keuangan. Yang membatasi pelemahan ini adalah kenaikan saham-saham perusahaan Tiongkok yang terdaftar di AS pada hari Jumat, ketika Washington dan Beijing membentuk kelompok kerja untuk membahas masalah ekonomi dan keuangan. Longfor Group menderita 4,8%, diikuti oleh Country Garden Services (-4,3%), Xinyl Solar Hlds. (-3.5%), Trip.Com (-3.3%), dan Grup AIA (-2.8%).
Demikian indeks saham Cina Enterprise (HSCE) melonjak 1,68% ke posisi 6,262.61, dengan indeks Hang Seng berjangka kontrak September 2023 naik 2,41% di posisi 18097.
Hang Seng rebound dari kisaran terendah dalam sebulan setelah diberitakan Tiongkok sedang menjajaki perubahan kebijakan kepemilikan asing pada saham terdaftar.
Dari laporan ekonomi, surplus transaksi berjalan Hong Kong melebar pada Q2 – 2023 sementara inflasi bulan Agustus tetap berada pada titik terendah dalam 4 bulan terakhir.
Sebagai penggerak pasar hari ini, saham Wall Street alami pelemahan baik secara mingguan maupun Jumat lalu oleh tingginya yield obligasi AS pasca pengumuman Fed.
Harga minyak WTI naik di atas $91 per barel di tengah kekhawatiran bahwa larangan ekspor bahan bakar oleh Rusia dapat semakin memperketat pasokan minyak global.
Sumber :Trading Economics / Vibiznews.com
