Permintaan terhadap emas sebagai aset “safe-haven”
Berikut ini ringkasan dan implikasi dari peristiwa tersebut
Spot emas jatuh hingga sekitar US$ 3.970 per ons di satu titik, setelah sempat berada di atas US$ 4.000.
Salah satu pemicunya: pembicaraan antara AS dan Tiongkok di Malaysia menghasilkan kerangka kesepakatan yang bisa menunda kenaikan tarif AS dan menunda kontrol ekspor rare-earths oleh Tiongkok.
Karena harapan akan kondisi geopolitik & ekonomi yang membaik, investor mengurangi alokasi ke emas karena risiko “beli safe-haven” sedikit mereda.
Namun, masih ada faktor yang mendukung emas jangka menengah/ panjang — seperti potensi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, dan tetap adanya gejolak global.
Implikasi untuk investor / pasar
Emas (karena sifatnya non-yielding) sangat dipengaruhi oleh persepsi risiko global, suku bunga riil, serta prospek ekonomi dan geopolitik.
Dengan meredanya ketegangan AS-Tiongkok, persepsi risiko menurun → artinya emas bisa mengalami koreksi atau stagnasi sementara.
Tetapi jika kondisi berubah (misalnya pembicaraan gagal atau muncul risiko geopolitik baru), maka emas bisa kembali “bangkit” karena fungsinya sebagai lindung nilai.
Bagi investor di Indonesia atau di Asia, penting untuk juga memperhitungkan fluktuasi kurs USD/IDR, premi lokal, dan faktor permintaan fisik di pasar lokal.
Jadi, ya — laporan bahwa “emas turun di bawah US$ 4.000 karena kemajuan perdagangan AS-Tiongkok” benar dan sesuai dengan data terbaru. Bila Anda tertarik, saya bisa cek juga angka harga emas per gram di Indonesia hari ini, serta apa artinya bagi pembelian emas lokal jika tren global seperti ini terus berlangsung
Sumber : newsmaker.id