Harga emas mengalami penurunan akibat kenaikan imbal hasil obligasi, yang sering kali membuat aset non-yielding seperti emas kurang menarik bagi investor

Kenaikan imbal hasil biasanya menunjukkan bahwa investor lebih memilih untuk berinvestasi di instrumen yang memberikan pengembalian, seperti obligasi, dibandingkan dengan emas. Data ekonomi yang baik juga dapat memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS dalam kondisi baik, yang selanjutnya dapat mendorong kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Investor akan terus memantau berita dan laporan ekonomi untuk menentukan arah pergerakan harga emas ke depannya. Jika data ekonomi menunjukkan pertumbuhan yang kuat, kita mungkin akan melihat penurunan lebih lanjut dalam harga emas. Sebaliknya, jika data mengecewakan, emas bisa kembali menarik perhatian sebagai aset safe haven.

Harga emas mengalami penurunan pada hari Senin, dipicu oleh kenaikan imbal hasil Treasury AS dan panduan dari Federal Reserve yang menunjukkan laju penurunan suku bunga yang lebih lambat pada tahun 2025. Pada pukul 02:27 ET (1927 GMT), harga emas di pasar spot turun 0,2% menjadi $2,634.52 per ounce, sedangkan emas berjangka AS turun 0,3% menjadi $2,647.40.

Nitesh Shah, ahli strategi komoditas di WisdomTree, menjelaskan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi memberikan tekanan pada emas, yang tidak memberikan imbal hasil. Imbal hasil US Treasury Note 10-tahun telah mencapai level tertinggi dalam delapan bulan, membuat emas kurang menarik bagi investor.

Shah juga memperkirakan harga emas dapat mencapai $3,050 per ounce pada akhir tahun ini, didasarkan pada pandangan ekonomi mengenai depresiasi dolar dan penurunan imbal hasil obligasi. Namun, ketegangan di Timur Tengah bisa menjadi faktor risiko terhadap proyeksi tersebut.

Proyeksi terbaru dari The Fed menunjukkan keinginan untuk lebih berhati-hati dalam penurunan suku bunga, dengan kekhawatiran inflasi yang masih berada di atas target 2%. Dalam konteks politik, presiden terpilih AS, Donald Trump, yang mulai menjabat pada 20 Januari, diharapkan akan memperkenalkan kebijakan proteksionis yang bisa memicu inflasi lebih lanjut.

Meskipun demikian, emas tetap mengalami penurunan meskipun indeks dolar merosot 1% dari level tertinggi dalam dua tahun. Investor kini menunggu serangkaian data ekonomi yang akan dirilis minggu ini untuk memberikan petunjuk lebih lanjut tentang arah kebijakan moneter dan kondisi ekonomi ke depan.

Pelaku pasar saat ini fokus pada laporan pekerjaan AS yang dijadwalkan rilis pada hari Jumat, yang diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas tentang arah kebijakan Federal Reserve. Selain itu, investor juga menantikan data lowongan pekerjaan yang akan dirilis pada hari Selasa, serta angka ketenagakerjaan ADP dan risalah pertemuan kebijakan terbaru The Fed pada hari Rabu.

Di sisi lain, pergerakan harga logam mulia lainnya menunjukkan variasi. Harga perak di pasar spot naik 1,1% menjadi $29,93 per ounce, mencerminkan minat investor yang kuat. Sementara itu, platinum mengalami penurunan sebesar 0,8% menjadi $930,41, dan paladium turun 0,4% menjadi $918,25.

Dengan adanya rilis data ini, pasar akan lebih memahami kondisi ekonomi dan kemungkinan respons The Fed dalam mengatasi inflasi dan mengatur suku bunga. Investor diharapkan akan tetap waspada terhadap pengumuman tersebut, yang bisa memengaruhi semua aset termasuk logam mulia.

Perhatian!!!
Managemen PT. Rifan Financindo Berjangka (PT RFB) menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap beberapa bentuk penipuan yang berkedok investasi mengatasnamakan PT RFB dengan menggunakan media elektronik ataupun sosial media. Untuk itu harus dipastikan bahwa transfer dana ke rekening tujuan (Segregated Account) guna melaksanakan transaksi Perdagangan Berjangka adalah atas nama PT Rifan Financindo Berjangka, bukan atas nama individu.