Kemenangan ini meningkatkan optimisme terhadap kebijakan ekonomi dan fiskal yang lebih pro-bisnis yang diperkirakan akan diimplementasikan oleh pemerintahan baru, seperti pemotongan pajak dan peningkatan belanja infrastruktur. Akibatnya, ada peningkatan permintaan terhadap dolar AS sebagai mata uang safe haven, yang menekan harga emas.
Emas, yang umumnya dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan inflasi, sering kali berbalik arah ketika dolar menguat, karena emas diperdagangkan dalam dolar AS. Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, yang cenderung menurunkan permintaan.
Selain itu, investor juga mulai memperkirakan kemungkinan kebijakan The Federal Reserve yang lebih hawkish (lebih ketat), terutama terkait dengan kenaikan suku bunga, yang dapat membuat investasi dalam instrumen berisiko lebih menarik dibandingkan dengan emas.
Namun, meskipun ada penurunan harga emas dalam jangka pendek, beberapa analis berpendapat bahwa ketidakpastian global dan potensi volatilitas yang ditimbulkan oleh kebijakan Trump tetap dapat menjaga permintaan terhadap emas dalam jangka panjang.
Harga emas bertahan di dekat level terendah satu bulan setelah mengalami penurunan tajam pada hari Senin, dipicu oleh kemenangan Donald Trump dalam pemilu yang memperkuat dolar AS. Meskipun harga emas stabil setelah jatuh 2,5% pada sesi sebelumnya, harga masih tertekan oleh penguatan dolar yang mencapai level tertinggi dalam setahun. Pasar mengantisipasi potensi keuntungan lebih lanjut dari kebijakan tarif perdagangan Trump dan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS yang solid, yang semakin mendukung permintaan terhadap dolar.
Kekuatan dolar ini membuat emas, yang dihargakan dalam dolar, menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, menurunkan daya tarik logam mulia tersebut. Selain itu, terjadi rotasi yang lebih luas dari pasar emas ke saham-saham AS, yang tercermin dalam penurunan lebih dari 4% harga emas sejak pemilihan minggu lalu. Dana lindung nilai juga terlihat membatalkan posisi bullish mereka, sementara aliran dana yang diperdagangkan di bursa semakin kurang mendukung emas. Penurunan harga emas juga dipicu oleh faktor teknikal, setelah harga menembus di bawah rata-rata pergerakan 50 hari.
Namun, meskipun harga emas tertekan dalam jangka pendek, harga logam mulia ini masih mencatatkan kenaikan lebih dari 25% sepanjang tahun 2024, didorong oleh kebijakan pelonggaran moneter dari Federal Reserve (Fed), pembelian emas oleh bank sentral, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang meningkatkan permintaan akan aset safe haven.
Investor juga akan memperhatikan laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) inti yang dirilis pada hari Rabu untuk memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan pelonggaran lebih lanjut dari Fed. Mengingat bahwa inflasi kemungkinan akan terdampak oleh kebijakan Trump, beberapa ekonom memprediksi bahwa pelonggaran suku bunga dari Fed mungkin tidak seagresif yang diperkirakan sebelumnya. Kebijakan suku bunga yang lebih rendah cenderung menguntungkan emas, karena logam mulia ini tidak membayar bunga.
Pada pukul 7:58 pagi di Singapura, harga emas spot tercatat naik tipis 0,2% menjadi $2.623,74 per ons, meskipun masih sekitar 6% di bawah rekor tertinggi yang tercatat bulan lalu. Di sisi lain, harga perak dan paladium naik sedikit, sementara harga platinum justru mengalami penurunan. Indeks Bloomberg Dollar Spot stabil setelah naik 0,5% pada hari Senin, mencerminkan penguatan dolar AS.
